Selasa, 22 November 2011

Unreg Semua Langganan Konten SMS Penyedot Pulsa

Coba-coba cari gimana unreg semua langganan konten sms premium penyedot pulsayang lagi rame-ramenya untuk semua operator belum dapet juga. Tapi gak sengaja dapet info cara berhenti/unreg berlangganan konten Telkomsel yang lain menyusul kalo dah dapet info.
Oke langsung aja dengan cara berhenti langganan konten:
Tekan *111# (kartuHALO)
Tekan *116# (simPATI/AS)
Lalu Tekan/Pilih :
3 (Informasi Konten Anda)
Apabila Ingin Berhenti Berlangganan :
Tekan/Pilih Angka 2 Didalam Menu Informasi Konten Anda
Semoga bermanfaaat, yang lain menyusul atau kalau ada yang tau silakan dibagi infonya disini. (SUMBER :  bisnis-pulsaelektrik.com)

Mempercepat Koneksi Internet yang Putus-Putus

Tentu sangat mengganggu jika kita browsing ria dengan koneksi internet yang kecepatannya begitu lemot. Untuk membuka website membutuhkan waktu yang lama, download file putus di tengah jalan, serta untuk melihat video streaming di youtube jadi terputus-putus. Memang dengan infastruktur jaringan internet di indonesia untuk mendapatkan kecepatan internet yang bagus tidaklah mudah, kalaupun bisa membutuhkan biaya yang tidak murah.
Cara satu-satunya mungkin dengan mengoptimalkan kecepatan koneksi internet yang kita dapat. Untuk mengoptimalkan kecepatan internet lebih baik kita mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan internet. seperti:
  • -Komputer
  • -ISP atau Koneksi internet
  • -Web browser
  • -Jaringan telepon
Koneksi DSL dipengaruhi oleh jarak dan kualitas phone line, Koneksi Kabel dipengaruhi oleh kualitas kable (coax) dan banyaknya client yang berbagi jaringan dengan kita. Pada koneksi FTTC (Fiber To The Curb) kecepatannya dipengaruhi oleh kualitas kabel (coax/Cat5) Network dengan komputer kita dan jaringan fiber ISP. Biasanya kecepatan koneksi internet juga dipengaruhi oleh waktu-waktu tertentu, misalnya dimana pada jam-jam kerja koneksi internet akan menurun karena banyaknya pengguna internet yang ikut berbagi koneksi (peak-hour), sedangkan pada waktu malam sampai pagi hari (10-06) koneksi internet akan lebih lancar (non peak-hour).
Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mempercepat koneksi internet.
-Melalui software
-Optimasi pada jaringan
-Optimasi pada komputer
Untuk optimasi melalui software bisa dilakukan dengan menginstall software yang bisa digunakan untuk meningkatkan kecepatan internet semisal,TCP Optimizer,Full Speed, DrTCP dan OSS Internet Speed Booster.
Optimasi jaringan dapat dilakukan dengan menggunakan kabel (coax) yang mempunyai kualitas terbaik, tipografi network, pengaturan jaringan.
Meningkatkan jaringan melalui optimasi komputer dapat dilakukan dengan men-tweak regitry pada windows, yaitu dengan optimasi setting MaxMTU dan MaxMSS dengan setting RWIN dan TTL. Secara default MTU pada Windows adalah 1500bytes. Nilai ini sudah memadai untuk LAN biasa, namun saat kita terkoneksi internet dengan modem 1500bytes sangatlah berlebihan. Dengan merubah nilai MTU dan disesuaikan dengan koneksi modem dapat diperoleh kecepatan yang lebih baik. Cara ini dapat menggunakan software WinGuides Tweak Manager.
Selain itu kita juga bisa merubah setting pada “Limit Reservable Bandwidth“, caranya klik Start–>Run–> ketik gpedit.msc. Pergi ke Computer Configuration–>Administrative Templates–>Network–>klik Qos Packet Scheduler, pada bagian kanan jendela klik kanan “Limit reservable bandwidth” pilih properties, pada tab setting klik Enabled, pada bagian Bandwidth limit (%) isikan 0, klik Apply dan restart komputer.
Pada browser kita bisa men-Disable browser Add-ons, untuk firefox ketik about:config pada address bar, cari browser.sessionhistory.max_total_viewers berikan nilai 0, ganti settingan pada network.http.pipelining, network.http.proxy.pipelinning, menjadi true dan network.http.pipelining.maxrequests berikan nilai 10. Klik kanan pada bagian mana saja pilih New klik Integer, ketik nglayout.initialpaint.delay dan beri nilai 0. Sekali lagi klik kanan di mana saja pilih New klik Boolean ketik config.trim_on_minimize beri nilai True tekan enter, kemudian restart firefox. (SUMBER : Info Technology)

Minggu, 20 November 2011

Pembuatan Pakan Ayam Buras

Ayam buras atau ayam kampung, merupakan salah satu sumber daya pertanian yang telah lama kita miliki. Hampir disetiap desa di seluruh Indonesia, penduduknya telah mengenal ayam buras. Mulai dari Petani yang kaya hingga petani kecil dengan cara pemeliharaan yang berbeda-beda. Faktor yang terpenting pada usaha pemeliharaan ayam buras adalah pakan. Hampir 60-80% dari komponen Maya produksi perlu dipatok untuk pengadaan pakan ini. Biaya pakan ini bisa kita tekan dengan cara menggunakan bahan pakan yang berharga lebih mewah namun mempunyai nilai gizi sama/lebih dengan pakan ternak
yang telah ada sebelumnya. Salah satu upaya kearah ini adalah dengan menyusun sendiri ransum pakan ternak dengan menggunakan bahan yang ada disekitar kita. Dalam rangka dapat mempertahankan produksi serta mendatangkan keuntungan bagi ternak di daerah Papua, LPTP Koya Barat Irian Jaya telah merekomendasikan ransum pakan ternak seperti tertera dibawah ini.

BAHAN MAKAN UNTUK PAKAN
Agar diperoleh pakan ternak yang bermutu dan tersedia setiap saat, perlu dicarikan bahan makanan yang balk dari sumber nabati, hewani dan limbah pertanian seperti:
a. Jagung; dedak halus; ampas kelapa; ubi kayu; beras mentah/gabah; dll. (sumber nabati).
b. Kacang hijau; kedelai; bungkil kalapa; bungkil kedelai; ampas tahu; dll. (sumber protein).
c. Tepung ikan; bekicot; cacing tanah; ulat; kumbang, dll (makanan asal hewan).
d. Tepung tulang; tepung karang (bahan mineral);
e. Daun lamtoro; daun turi; daun kangkung; rumput alam; daun ubi kayu, daun bayam, dll ( bahan asal hijauan ).

BEBERAPA FORMULA PAKAN AYAM BURAS
Formula pakan yang diberikan peternak beraneka ragam, dan pemberiannyapun disesuaikan dengan ketersediaan bahan makanan pada daerah tempat tinggalnya.
Berikut disajikan 2 buah Rakitan Paket Teknologi Pembuatan Pakan Ternak Ayam Buras, yang direkomendasikan oleh LPTP Koya Barat dalam rangka peningkatan roduksi ayam buras, melalui perbaikan pakan yang tersedia dilokasi.
a. Formula pakan ayam buras LPTP Koya Barat (Tepung Gamal)
1. Jagung : 35 % ;
2. Kedelai : 20 % ;
3. Bekatul : 30 % ;
4. Tepung ikan : 10 % ;
5. Tepung gamal : 3 % ;
6. Kapur : 1 % ;
7. Minyak kelapa : 1 % ;
- Daun gamal dikeringkan, dihancurkan, digiling, dicampur dengan bahan ransum sesuai komposisi.
- Biaya pakan : Rp. 2.400 / kg
- Konsumsi ransum optimal 58,47 gr/ekor/hari
- Konservasi ransum : 3,54 gr/ekr/hari
- Umur anakan ayam 10 -60 hari
- Sistem pemeliharaan intensif
- Skala minimal 100 - 150 ekor
- Penambahan bobot badan 16.52 gr/ekor/hari
- R/C : 2,35

b. Komponen Paket Teknologi Ampas Sagu, oleh LPT Koya Barat
1. Jagung : 65 % ;
2. Bungkil Kedelai : 24 % ;
3. Tepung ikan : 5 % ;
4. Ampas sagu : 5 % ;
5. Kapur : 0.5 % ;
6. Minyak kelapa : 0.5 % ;
- Limbah sagu dikeringkan, digiling, dicampur merata dengan pakan sesuai

komposisi.
- Biaya pakan Rp. 2.400/kg
- Konsumsi ransum optimal 56.01 gr/ekor/hari
- Konversi ransum : 3,9 gr/ekor/hari
- Umur anakan ayam : 10 - 60 hari
- Sistem pemeliharaan, serta skala minimalnya seperti pada butir a diatas
- Pertambahan bobot badan : 14,34 gr/ekor/hari, dengan R/C = 1 : 6

CARA PEMBERIAN PAKAN
Pemberian pakan ayam buras yang perlu diperhatikan adalah menghindari pakan berhamburan dari wadahnya, dengan cara mengisinya hanya separoh hingga 2/3 bagian kedalam tempat makanan yang diberikan. Dapat juga pakan dicampur sedikit air hingga membentuk bubur. Pakan diberikan minimal 2 kali sehari yaitu pada pagi hari dan petang hari, air minum perlu disediakan secara tidak terbatas. (SUMBER : Ayam Kampoeng Nusantara)

JAGUNG DAN INDUSTRI PAKAN TERNAK

Komponen utama  pakan ternak adalah jagung, bungkil dan tepung ikan. Dari tiga komponen ini hanya jagung yang sudah bisa diproduksi dalam jumlah memadai. Sementara ketergantungan kita pada bungkil dan tepung ikan masih sangat tinggi. Tahun 1998 Indonesia malahan bisa surplus jagung. Impor kita hanya 298.234 ton, sementara ekspornya mencapai 463.000 ton. Sebelumnya, pada tahun 1997 kita mengalami defisit yang luar biasa. Impor kita mencapai 1.098.012 ton, sementara ekspornya hanya 14.400 ton. Produksi jagung nasional kita rata-rata mencapai 9 juta ton per tahun. Angka konsumsinya meskipun lebih tinggi dari angka produksi, namun belum pernah mencapai 10 juta ton per tahun. Baru selama  dua tahun terakhir ini angka konsumsi kita melampaui 10 juta ton per tahun.
Tahun 1996, kebutuhan jagung untuk pakan ternak mencapai 3,5 juta ton. Tahun 1997 menurun menjadi 2,5 juta ton. Karena krisis ekonomi yang sangat parah, angka tersebut menjadi 1 juta ton pada tahun 1998 dan 1,8 juta ton pada tahun 1999. Sebab pada tahun-tahun tersebut sebagian besar industri perunggasan kita colaps. Di satu pihak, karena adanya krisis ekonomi angka luasan areal penanaman jagung pada tahun 1998 meningkat dari rata-rata sekitar 3,5 juta hektar menjadi 3,9 juta hektar. Ditambah lagi, tingkat keberhasilan panen pada tahun 1998 sangat tinggi akibat kemarau panjang pada tahun 1997,  yang kemudian disusul dengan tingginya curah hujan pada tahun tersebut. Hingga tak mengherankan apabila angka ekspor jagung pada tahun tersebut mengalami lonjakan yang sangat berarti.
Dari gambaran tersebut, sebenarnya kita tidak perlu  terlalu merisaukan komoditas jagung. Sebab defisit  kita yang tercermin dari impor, paling tinggi hanya mencapai 1 juta ton per tahun. Dengan tingkat produksi petani yang hanya sekitar 2,5 ton per musim tanam, maka perluasan areal untuk menutup defisit tersebut hanyalah sekitar 400.000 hektar. Dengan benih hibrida, dengan penanganan budidaya yang benar, petani kita bisa menghasilkan sampai 8 ton pipilan kering per hektar per musim tanam. Sebab meskipun merupakan tanaman pendatang dari benua Amerika, jagung adalah tanaman tropis yang adaptasinya di lahan-lahan Indonesia bisa berjalan dengan baik. Lain halnya dengan kedelai (sebagai bahan bungkil) yang memerlukan panjang hari sampai 17 jam untuk mencapai produksi optimalnya 4 ton per hektar. Di Indonesia, dengan perlakuan apa pun, produksi optimal kedelai  hanya akan mencapai 4 ton per hektar per musim tanam.
Tetapi masalahnya tidak sesederhana itu. Selama ini para petani kita tidak terlalu antusias menanam jagung karena rendahnya harga di tingkat petani. Rata-rata harga jagung kering berkadar air maksimal 15% hanya sekitar Rp 900,- per kg. Kalau kadar airnya mencapai di atas 20%, maka harga yang akan diterima petani bisa turun sampai ke tingkat Rp 500,- per kg. Dengan hasil hanya sekitar 2,5 ton per hektar maka harga jual sebesar Rp 500,- per kg tersebut akan mengakibatkan pendapatan petani hanyalah Rp 1.250.000,- per hektar per musim tanam. Biasanya para petani tidak pernah memperhitungan nilai sewa lahan. Demikian pula halnya dengan tenaga kerja mereka. Namun dengan pendapatan serendah itu, petani sulit untuk menutup biaya benih, pupuk dan  pestisida. Kecuali mereka memperoleh bantuan kredit untuk keperluan budidaya.
Masalah utama yang dihadapi para petani jagung sebenarnya bukan menyangkut aspek budidaya melainkan pada pasca panen.  Panen raya musim tanam I selalu terjadi pada bulan-bulan Januari dan Februari. Pada saat itulah tingkat curah hujan di Indonesia relatif tinggi. Hingga pengeringan dengan mengandalkan panas matahari pasti akan menjadi masalah. Karenanya, sentra-sentra jagung seperti di Lampung dan Jatim, sangat memerlukan dryer berkapasitas besar. Sayangnya, dryer adalah peralatan yang harganya paling tinggi dibanding mesin-mesin lainnya. Kalau mesin pemipil, pemecah dan penepung kapasitas terkecil harganya dibawah Rp 20.000.000,- per unit, maka dryer kapasitas terkecil sudah mencapai Rp 30.000.000,- Jadi sulit diharapkan para petani mampu investasi dryer untuk mengatasi masalah kadar air.
Masalah berikut yang dihadapi petani adalah, mereka sangat memerlukan uang cash pada saat panen. Tidak mungkin petani menahan produk mereka untuk menunggu saat membaiknya harga. Karenanya, untuk membantu para petani, mestinya dialokasikan dana pembelian. Seandainya dana pembelian ini bisa didapatkan oleh koperasi misalnya, masih akan timbul masalah penyimpanan. Selama ini penyimpanan jagung, juga beras, selalu dilakukan dengan menggunakan karung yang ditumpuk dalam gudang. Padahal idealnya penyimpanan produk-produk biji-bijian menggunakan silo. Hingga yang diperlukan oleh sentra-sentra produksi jagung adalah pengadaan dryer, dana pembelian ke petani dan silo sebagai tempat penyimpanan.
Sayangnya, selama ini perusahaan pakan ternak di Indonesia labih berpikiran praktis. Pokoknya kebutuhan jagung pipilan kering berkadar air 14% tersedia. Kalau petani Indonesia tidak bisa memenuhi permintaan mereka, impor pun dilakukan. Departemen Pertanian dan Dinas Pertanian di daerah, pola pikirnya kurang lebih juga  sama. Hingga skim-skim kredit yang dikucurkan ke petani hanyalah untuk keperluan budidaya. Masalah pasca panen dan penanggulangan dana pembelian ke petani tidak pernah mereka sentuh. Kondisi semacam ini setengahnya dimanfaatkan oleh perusahaan pakan ternak untuk memperoleh jagung dengan biaya rendah. Paling tidak hal ini dilakukan oleh para tengkulak yang biasanya merupakan oknum-oknum perusahaan pakan ternak.
Dalih yang paling sering dikemukakan oleh para tengkulak dalam menekan harga di tingkat petani adalah, kualitas jagung kita tidak sebaik jagung impor. Kalau rendahnya mutu jagung lokal dikaitkan dengan masalah kadar air, memang benar. Tetapi dengan penanganan pasca panen yang benar, masalah tersebut dengan mudah bisa diatasi para petani kita. Sebab kenyataannya, jagung lokal kita mutunya justru lebih baik dari jagung impor. Paling tidak jika dibandingkan  dengan jagung eks RRC. Pertama, tingkat kesegaran jagung lokal jelas lebih baik. Sebab jagung-jagung lokal yang beredar di pasaran adalah produk yang baru saja  dipanen. Selain itu kandungan beta karoten jagung lokal kita labih tinggi. Hingga pakan ternak yang menggunakan jagung lokal, akan menghasilkan kuning telur dan daging ayam dengan kualitas yang lebih baik.
Hingga sebenarnya, perusahaan pakan ternak akan cenderung memilih jagung lokal dibanding yang impor. Namun, apabila stok jagung lokal tidak mencukupi, mareka akan mengimpornya. Sebenarnya, kalau kisaran kebutuhan industri pakan ternak maksimal hanya 3,5 juta ton, akan bisa dipenuhi oleh peroduksi kita yang bisa mencapai 10 juta ton. Akan tetapi, jagung produksi nasional tersebut tidak hanya ditujukan untuk pakan ternak. Masih lebih banyak jagung yang dikonsumsi manusia. Baik sebagai nasi jagung, berupa roti,  kue-kue maupun makanan lainnya. Selain itu jagung juga dibutuhkan untuk industri non pakan ternak. Itulah sebabnya secara rutin kita masih akan mengalami defisit maksimal 1 juta ton setiap tahunnya.
Seandainya defisit rutin tersebut bisa kita tutup dengan perluasan areal tanam dan penanganan pasca panen yang benar, bisa saja kita masih akan melakukan impor. Mungkin impor kita akan tetap mencapai angka 1 juta ton. Bisa juga malahan akan semakin besar. Hal tersebut tidak perlu terlalu kita permasalahkan, asalkan ekspor kita bisa mencapai kisaran angka yang lebih besar lagi. Misalnya impor kita 1 juta ton sementara ekspornya mencapai 1,5 juta ton. Sebab dalam era perdagangan bebas, kita tidak hanya boleh mengekspor, melainkan juga wajib mengimpor dengan angka minimal tertentu. Dalam dunia bisnis hal itu biasa. Misalnya kita mengekspor minyak bumi berkadar belerang rendah ke Jepang, tetapi untuk konsumsi dalam negeri kita mengimpor minyak berkedar belerang lebih tinggi  dari timur tengah.
Dengan gambaran permasalahan tersebut, sebanarnya kita tidak perlu terlalu merisaukan permasalahan jagung. Namun mengapa Departemen Pertanian sampai membentuk sebuah lembaga yang disebut Dewan Jagung Nasional? Sebenarnya ini merupakan stretegi perdagangan perusahaan perunggasan multinasional, terutama yang berasal dari AS. Mereka ingin pangsa pasar yang terus meningkat. Padahal, komoditas jagung sudah tidak terlalu menguntungkan untuk ditanam di AS. Karenanya mereka membuang komoditas murah ini ke RRC, India dan Indonesia. Tiga negara dengan potensi pasar terbesar karena jumlah penduduknya. Sebab kalau jagung sudah ditolak oleh petani AS sementara alternatif lain belum ada, maka industri perunggasan akan colaps lagi.
Sebab industri perunggasan tidak melulu menyangkut jagung. Masih ada bungkil, tepung ikan, industri grand-grand parent dan obat-obatan ternak. Semua itu sampai saat ini masih dipegang oleh negara-negara maju, terutama AS. Jadi kalau ada iming-iming dana besar untuk pengembangan komoditas jagung dari AS, kita mesti hati-hati. Bukan berarti harus ditolak, tetapi kita perlu tahu bahwa bantuan apa pun yang kita terima, pasti ada latar belakangnya. Dan latar belakang bantuan untuk pengembangan jagung melalui Dewan Jagung Nasional, adalah salah satu bagian dari agroindustri perunggasan yang melibatkan banyak perusahaan multinasional. Sebab Indonesia dengan jumlah penduduk di atas 200 juta jiwa adalah pasar sangat potensial bagi telur dan daging ayam. (FR)+++ (SUMBER :Forum Kerjasama Agribisnis)

MENGUNTUNGKANKAH MENANAM SINGKONG ?


Para petani singkong kita rata-rata mengeluarkan modal kerja sekitar Rp 500.000,- per hektar per musim tanam. Setelah 9 bulan sampai 1 tahun, mereka akan panen sekitar 10 ton singkong segar. Kalau di saat panen harga singkong jatuh hingga tinggal Rp 100,- per kg, petani  masih akan memperoleh pemasukan sebesar Rp 1.000.000,- Keuntungan mereka sebesar 100% dari modal kerja dalam kurun waktu 1 tahun. Sebuah prosentase keuntungan yang cukup baik kalau suku bunga pinjaman komersial paling tinggi 20% per tahun. Sentra singkong terbesar di Indonesia ada di provinsi Lampung. Rata-rata kepemilikan petani singkong di Lampung seluas 2 hektar per orang. Berarti pendapatan bersih mereka per tahun dari singkong adalah Rp 1.000.000,- atau per bulan Rp 83,33. Pendapatan mereka dari singkong memang sangat besar prosentasenya, namun secara nominal petani singkong tidak akan dapat hidup dari komoditas tersebut. Itulah sebabnya mereka lebih mengandalkan pendapatan dari pisang, kelapa, melinjo dan lain-lain komoditas tanaman keras di sela-sela areal singkong. Biasanya mereka juga beternak unggas dan ternak ruminansia.
Pada tahun 70an, almarhum Westernberg dari Medan mampu menghasilkan  sampai 80 ton singkong segar dari satu hektar lahannya. Rahasianya, dia memberikan input pupuk organik (pupuk kandang atau kompos) separo dari hasil singkong segar yang diharapkan. Jadi untuk memperoleh 80 ton singkong segar tersebut, Westernberg memberi lahannya sebanyak 40 ton pupuk kandang. Kalau satu truk besar mampu mengangkut 5 ton pupuk kandang, maka untuk tiap hektar lahannya, Westernberg memasukkan sampai 8 truk pupuk. Kalau nilai pupuk kandang atau kompos buatan sendiri itu Rp 75,- per kg, maka diperlukan modal Rp 3.000.000,- untuk keperluan tersebut. Aplikasi urea, SP dan KCL (atau dengan NPK) sekitar Rp 1.000.000,- Tenaga kerja, bibit dan lain-lain bisa mencapai angka Rp 1.000.000,- Total modal yang dikeluarkan oleh Westernberg Rp 5.000.000,- Dengan hasil panen sebesar 8 ton dan harga tetap Rp 100,- per kg, maka pendapatan kotornya Rp 8.000.000,- Pendapatan bersihnya hanya Rp 3.000.000,- atau sebesar 60% dari modal kerja.
Pendapatan Westenberg secara prosentase jauh lebih kecil dibanding dengan pendapatan para petani tradisional di Lampung. Yakni hanya tigaperlimanya. Tetapi secara nominal, pendapatan dari tiap hektar lahannya menjadi enam kali lipat dari pendapatan para petani tradisional. Angka-angka tersebut sebenarnya menjadi tidak terlalu penting, sebab bagaimana pun menanam singkong tetap menguntungkan secara ekonomis. Lebih-lebih kalau harga singkong segar bisa menjadi Rp 200,- atau Rp 300,- per kg. Yang bisa dicapai oleh Westenberg tersebut sebenarnya termasuk luarbiasa. Sebab standar internasional hasil singkong per hektar per musim tanam hanyalah 50 ton. Tetapi yang bisa dicapai oleh rata-rata petani kita yang hanya 10 ton per hektar per musim tanam juga jauh sekali di bawah standar internasional tersebut. Sebab para petani sama sekali tidak menggunakan aplikasi bahan organik. Padahal singkong adalah jenis tanaman yang terkenal sangat rakus mengambil unsur hara tanah. Karenanya, lahan-lahan yang ditanami singkong secara monokultur secara terus-menerus, hasilnya akan cenderung makin turun. Tanah tersebut juga akan semakin miskin unsur hara.
Para petani tradisional, biasanya juga tahu kalau singkong itu rakus unsur hara. Tetapi mereka hanya memberikan urea yang akan menambah suplai unsur N (Nitrogen). Dosis yang mereka berikan biasanya sekitar 1 sampai 2 kuintal per hektar. Pemberian urea tanpa aplikasi bahan organik ini akan mengubah struktur tanah menjadi semakin liat. Akibatnya, lahan yang secara terus-menerus ditanami singkong bukan hanya akan miskin unsur hara tetapi juga akan mengalami degradasi (kerusakan struktur). Hingga kalau tetap ditanami singkong hasilnya terus menurun, tetapi ditanami komoditas lainnya juga tidak bisa hidup. Karenanya, aplikasi bahan organik menjadi mutlak dalam penanaman singkong. Kalau kita hanya ingin mendapatkan hasil sesuai dengan standar internasional, maka ke dalam tiap hektar lahan cukup dimasukkan 25 ton kompos (lima truk besar). Kalau kompos tersebut dibuat di lahan tersebut, maka akan diperoleh penghematan biaya transpor.
Meskipun sudah diberi aplikasi bahan organik, lahan yang terus-menerus ditanami singkong akan tetap menurun tingkat kesuburannya. Alternatif untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan melakukan rotasi. Komoditas yang selama ini paling cocok untuk dirotasi dengan singkong adalah nanas. Lahan bekas singkong yang ditanami nanas, hasilnya akan meningkat dibanding lahan yang terus-menerus ditanami nanas. Sebaliknya, lahan bekas nanas yang dirotasi dengan singkong, hasil singkongnya pun akan naik lagi. Hingga pola yang dilakukan adalah nanas 2 tahun, singkong 2 tahun. Atau nanas 3 tahun, singkong 3 tahun. Kalau satu tahun-satu tahun, nanasnya rugi. Kalau lebih dari tiga tahun, hasil masing-masing akan mulai menurun. Tetapi kemudian timbul masalah. Agribisnis singkong biasanya dilengkapi dengan unit prosesing menjadi tepung tapioka. Agribisnis nanas disertai dengan unit canning atau pembuatan konsentrat. Dua kegiatan ini sama-sama menghasilkan limbah yang kalau dibiarkan akan menjadi gunung yang mencemari lingkungan dengan bau busuknya. Lebih fatal lagi limbah ini akan meracuni tanah maupun sungai.
Limbah singkong maupun nanas sebenarnya masih memiliki nilai ekonomis. Dua komoditas ini masih mengandung nutrisi yang bisa dimanfaatkan oleh ternak. Kulit dan ampas singkong masih mengandung karbohidrat dan selulosa. Sementara tangkai, kulit dan "hati" nanas mengandung gula dan selulosa. Biasanya limbah nanas ini difermentasi menjadi silase sebelum diberikan pada ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing, domba). Sementara limbah singkongnya dapat diberikan langsung. Bisa juga limbah dua komoditas ini dicampur, difermentasi lalu dikeringkan sebelum diberikan kepada sapi. Karenanya di banyak tempat di dunia, lahan singkong selalu menyatu dengan kebun nanas dan peternakan sapi pedaging. Ini pulalah yang kemudian dilakukan oleh Great Giant Peanaple (GGP), sebuah patungan antara Delmonte dengan Gunung Sewu Group di Lampung Tengah sana. Mula-mula Gunung Sewu menanam singkong. Karena lahannya makin kurus dicarilah komoditas yang bisa merotasinya. Ketemu dengan Delmonte yang kebetulan sedang ingin "membuang" nanasnya dari Hawaii. Limbah nanas dan juga singkong ternyata kemudian bermasalah. Masuklah unit peternakan sapi potong.
Di Indonesia, harapan untuk mencapai standar panen singkong 50 ton per hektar masih sangat jauh. Taruhlah kita standarkan 30 ton per hektar. Karena komoditas umbi-umbian berkadar air sekitar 60%, maka bahan padat kering berupa selulosa dan karbohidrat yang dihasilkan masih ada 12 ton. Dengan standar petani tradisional pun, bahan padat kering yang dihasilkan masih ada 4 ton. Ini masih relatif bagus dibanding dengan jagung yang per musim tanamnya 3 bulan dengan hasil sebesar 4 ton pipilan kering (pertanian modern) atau 1,5 ton pada petani tradisional. Artinya dengan asumsi dua kali panen, maka hasil karbohidrat jagung masih lebih rendah dibanding singkong. Pada pertanian modern, singkong menghasilkan 12 ton bahan padat kering, jagungnya 8 ton. Pada pertanian tradisional singkongnya menghasilkan bahan padat kering 4 ton, jagungnya hanya 3 ton. Menghasilkan karbohidrat dari pertanian singkong masih lebih murah dibanding jagung karena biaya produksinya hanya keluar satu kali. Sementara jagung dua kali. Resiko akibat gangguan alam maupun hama/penyakit pun lebih kecil pada tanaman singkong.
Baik singkong maupun jagung sebenarnya merupakan komoditas pendatang. Dua tanaman ini asli dari kawasan tropis benua Amerika. Dibawa ke kepulauan Nusantara sekitar abad XVII oleh bangsa kulit putih. Sebutan bahwa singkong (gaplek) yang dimasak menjadi tiwul adalah makanan pokok (tradisional) orang Gunung Kidul dan Wonogiri, sebenarnya adalah brain washing yang dilakukan oleh kaum penjajah. Makanan pokok orang Jawa adalah padi. Jawa di jaman Hindu dikenal sebagai penghasil beras kualitas baik yang merupakan komoditas ekspor. Ketika Belanda menguasai Jawa, lahan-lahan subur yang semula merupakan areal penanaman padi, dirampas untuk ditanami tebu, tembakau dan rami.  Untuk menghibur inlander yang kekurangan beras, diperkenalkanlah jagung dan singkong yang bisa dibudidayakan di lahan-lahan marjinal. Agar didapat kesan bahwa singkong itu benar-benar makanan pribumi, maka diciptakanlah mitos melalui pelajaran di bangku sekolah bahwa makanan tradisional orang Gunung Kidul dan Wonogiri adalah tiwul yang terbuat dari gaplek singkong.
Masa depan singkong sebenarnya sangat baik. Selama ini singkong yang diolah menjadi tepung gaplek (casava) adalah sumber karbohidrat dalam industri pakan ternak. Sementara pati singkong (tapioca) adalah  bahan baku High Fructose Syrup (HSF) dan Citric Acid. Di tanahair, pati singkong adalah bahan baku kerupuk, bakso dan pempek Palembang yang pangsa pasarnya terus meningkat. Di masa mendatang singkong berpotensi menjadi salah satu pengganti bahan bakar fosil. Setelah diolah menjadi methanol,  singkong adalah bahan bakar sistem cel yang ramah lingkungan. Methanol yang dikonversi menjadi hidrogen, setelah diberi oksigen akan menghasilkan listrik dengan bahan buangan berupa uap air (H2O). Itu semua masih akan sangat panjang. Namun yang jelas singkong bukannya komoditas murahan yang hanya pantas dijadikan makanan pokok kaum inlander.(FR)+++ (SUMBER : Forum Kerjasama Agribisnis)